25 Jan 2017

Kongsi Rasa : Kamar Rahsia UYTP

Kamar Rahsia : Untuk Yang Telah Pergi (UYTP) adalah sebuah acara intim perkongsian rasa lima penulis buku Untuk Yang Telah Pergi dengan para pembaca. Sepatutnya acara ini dibuat sewaktu buku telah siap dicetak, semacam peluncuran buku begitu.

Tapi oleh kerana kelima-lima penulis duduknya bertebaran di segenap Malaysia dan ada yang di luar negara, kami tangguhkan. Tak mengapalah jika tak ada acara peluncuran. Kami rela asalkan promosi dan pembeliannya berterusan.

Tetapi niat tidak terhenti di situ. Cadangan 21 Januari akhirnya telah dipersetujui Tuhan. :) Siapa pergi akan tahu, siapa tak pergi mungkin sebab tiket dah habis atau kalian memang tak mahu datang, tidak mengapa. Biarlah ia menjadi rahsia kalian.

Di sini akan saya kongsikan puisi yang telah saya baca pada malam itu. Puisi yang pertama adalah puisi "Kelebihanku Kali Terakhir" yang dimuatkan di dalam buku UYTP, muka surat 59. Baca sendirilah. Kalau tak punya, harus dibeli dulu bukunya di @rumahripta (Instagram/Twitter) Hehe.

Dan ini adalah prosa yang kedua, yang mungkin kalian rasa mengantuk sewaktu saya membacakannya. Maaf, saya juga tidak menyangka saya bisa seayu itu. Puisi prosa ini sebenarnya mewakili lima hingga lapan puisi yang berbeza-beza, yang saya siapkan untuk "manuskrip angan-angan" yang baru.

Tetapi, oleh kerana saya tak ingin punya muzik latar atau bunyi-bunyian apapun sewaktu saya membacanya di acara Kamar Rahsia, maka saya memutuskan untuk mewujudkan puisi baru biar rasa lebih bertanggungjawab untuk kalian yang susah payah hadir di acara. Tetapi waktu itu saya harus bersaing dengan masa dan kesihatan bunda yang kurang memuaskan, maka saya gabung dan tokok tambahkan manuskrip baru itu tadi menjadi sebuah prosa.

Percayalah, Para Jamaludin tak akan pernah menulis sesebuah puisi hingga panjang begini. Ini adalah gabungan manuskrip yang belum siap. Maaf tak punya tajuk kerana sehingga hari ni saya belum memutuskan tajuknya.

* * *

Matamu tak lepas kubaca dalam tatap dingin malam dan keresahan-keresahan. Ada kaca yang semakin menebal dan bergetar di balik bola kanta itu. Kecemasan-kecemasan bertubi-tubi menusuk dadaku, membunuh suaraku yang sepatutnya mendodoikanmu. Getarmu sederhana...hampir menumbuhkan kekecewaan. Kekasihku, ini saatnya kau melepas. Biar ringan dirimu di cinta, biar bebas katamu di tinta.

Kekasihku, engkau pun tahu, waktu sering memutarbalik kesedihan yang telah lama engkau humbankan ke dalam unggun. Aku tahu, engkau telahpun menjadi oknum yang baru. Malangnya, mereka seperti sudah terhafal bentuk topengmu yang telah kau buang pada malam itu; malam yang tak punya sebutir pun cahaya bintang. Malam yang menelan semua sinar dan gemintang.

Tetapi bagiku, engkau yang membentuk benturan awan agar ia tetap berlekuk kebahagiaan. Walaupun seringkali aku meragui, apakah untuk kehilanganmu memerlukan aku terus wujud dalam bayang. Kau yang menjaga kesedihan agar ia tetap bernama kesedihan. Acapkali aku yang terkorban bertanya bilakah cerita kita harus bernama bahagia.

Sekelebat angin, kau pun memadamkan semua makna. Kitakah mimpi yang terburuk itu? Atau cuma akukah yang menamakannya? Di atas samudera itu, aku melahirkan berjuta kembar persoalan. Namun, tak pernah dijawab siapapun.

Engkau yang membentuk kebahagiaan agar ia tetap membahagiakan.

Kekasihku, engkau adalah satu dan satu-satunya. Pinggir malam bertanya, seperti apa sosok yang kau rindukan saat ini. Adakah benar uratmu yang melahirkan makna, atau ini cuma sebuah kesialan yang berterusan. Aku mencari. Menyoal di balik tabir yang memisah mentari dan bulan. Usah kau selindungkan lagi penat yang menggugah jiwamu. Kau hanya tinggal melenyapkan semua yang membelengguku.

Wahai kekasihku, pernahkah engkau memarahi angin ketika ia menerpa waktumu tentang kepergian? Berapa lama lagikah engkau perlu terus-menerus mengakui tentang cinta lalu yang seringkali melukakanku? Adakah kita cuma sepasang entah yang seringkali dilukai oleh jarak dan kepalsuan?

Kekasihku, aku bukan penyair agung yang mampu memuisikanmu, tetapi engkau tetap menjadi buku yang tidak akan pernah selesai kubaca, sajak yang takkan pernah habis kutulis, dan hidup yang takkan pernah selesai ku nikmati.

Izinkan aku membaca, menulis dan menghidupimu dengan ketololanku dan rasa ingin tahu yang sebaiknya. Dan cinta, biarkan ia mengalir ke hangat tubuh kita dalam kejauhan malam yang panjang.

Untuk yang telah tiba.

(Para Jamaludin, 2017)


(Dibaca di KamarRahsiaUYTP @ Markas KD, 21012017)


Terima kasih kepada;
-kalian yang datang berkongsi dan meraikan
-Sefa dan Aisyah Rais selaku moderator
-krew KRUYTP (Along, Lynn, dll) yang terlibat
-MARKAS Kota Damansara (Fazleena Hishamuddin & Amar) untuk lokasi
-Flora_Kitchen (Nisha Ismail) untuk refreshment yang sedap
-CATS untuk tshirt Kamar Rahsia UYTP
-CST Production sebagai official videographer
-Daus sebagai official photographer

dan kalian berempat. :)



13 Jan 2017

Jogja Dan Hal-hal Yang Sederhana

Entri kali ini mungkin sudah lama kutulis dan cuma kupilih untuk tersimpan di draft. Sejujurnya aku merasakan tidak akan pernah ada waktu yang paling sesuai untuk entri ini diterbitkan.

Satu kerana halnya sudah lama.
Dua, kenapa perlu sekarang?

Dan ada dua pertanyaan yang turut mengiringi kenyataanku tadi.

Jadi?
Kenapa tidak?

Maka ini. Bukan untuk sekadar memenuhi postingan lain di Pohon Tulisan ini, bukan juga untuk sekadar merindukan. Mungkin boleh dibilang ia cuma semacam satu bentuk travelog biasa yang tidak dipenuhi gambar.

Maaf, salah. Yang tidak mempunyai walau satu pun gambar.

* * *

Jogjakarta adalah negeri yang menghilangkan ingatan kita tentang tanggal dan waktu. Ia seperti endemik aneh tetapi enak yang tidak bisa ditemukan di mana-mana kecuali di Jogja.

Terus-terang, Jogja tidak pernah sekalipun berhasil melewati fikiranku sebagai sebuah destinasi yang bisa kujejakkan kaki. Aku cuma tahu satu hari nanti, aku pasti akan ke Indonesia. Tidak kira manapun tempatnya.

Mungkin bisa dibilang Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah perantaraku dan Jogja. Tetapi Cinta dan Rangga saja belum cukup menghadirkan Jogja sebagai sosok yang sentiasa kurindukan, sehinggalah aku sendiri berdiri di hadapan bandara Adisutjipto untuk terbang kembali ke Malaysia.

Jogja Jogja, Jogja istimewa
Istimewa negerinya istimewa orangnya


Mendengar bait rangkap lagu ini membuatkanku mengakui bahwa tidak ada satu pelusuk pun yang aku tinggalkan di Jogja bisa kuciptakan di tempat lain. Nuansa, suasana, dan keramahan penduduknya membuatkan Jogja memiliki kekayaan dalam kesederhanaan bersama.

"Jika Jogja terkenal dengan makanannya nasi gudeg, maka minumannya ini, wedang ronde," ujar mbak-mbak yang menjual makanan dan minuman saat aku berjalan berseorangan di sepanjang lesehan di Alun-alun Selatan. 

Pertama kali ke sana, sebagai rakyat Malaysia, terus-terang ada sedikit rasa takut untuk mengatakan kalau aku memang dari Malaysia. Sentimen kebencian Indonesia-Malaysia membuatkanku menjadi ragu-ragu dengan setiap perkenalan dan perbualan.

Tetapi apa pun, berbanggalah dengan asal-usul. Maka kerana itu, "saya dari Malaysia, pak". Dan mereka mula bercerita tentang saudara-saudara mereka di sini, di Sarawak, di Kuala Lumpur. Tentang KLCC, dan semuanya yang baik-baik, yang manis-manis.

Dari Malioboro ke Magelang, menyelusuri lewat bukit dan polisi tidur yang berselang-seli memenuhi aspal, berteduh di pondok usang menunggu hujan teduh, dan melewati perkebunan, sawah dan ladang. Mendengar bingar anak-anak SD di Umbul Ponggok, dan menyaksikan program anak muda di atas Kalibiru. Masih Jogja tetap belum habis kulihat. Ia dan segala isinya adalah pelajaran sekaligus kenangan manis yang tak akan terlenyapkan.

Ada satu hal yang membuatkanku begitu ingin memeluk Tuhan dengan lebih erat. Kita juga tahu keberadaan Tuhan itu tidak cuma terhad di atas sejadah. Cari moment ini di dalam hidupmu--saat yang paling perlu kita hargai dan nikmati adalah saat kita bersendirian sambil memandang pemandangan yang luas dariNya.

Seliratmu akan terlerai, keserabutan akan ikut terurai satu persatu. Dan akhirnya kau tinggal mengikhlaskan. Kerana momentku itu terjadi di Jogja, maka langit Jogjakarta menjawab setiap pertanyaan-pertanyaanku.

Ia mengajarku menghargai kehilangan-kehilangan serta mengikhlaskan semuanya. Jauh dari rumah tidak akan pernah terasa jika ia adalah Jogja. Sampai bila pun aku tidak mungkin bisa bangun dari jatuh cinta sama Jogjakarta.

Mungkin ini cuma hadiah kecil untuk sekian banyak pengingat bahawa kenangan sampai bila pun tetap tidak akan hilang dari ingatan.

Ini perjalanananku, mana perjalananmu?

8 Jan 2017

Tua.

Tidak banyak.

Semoga permulaan yang agak tawar ini tersimpan di hujungnya yang manis-manis belaka. Waktu semestinya tak akan pernah mengulangkan apa yang telah lewat tetapi kita sentiasa digantikan kesempatan yang baru untuk bercambah dan tumbuh semula.

Semoga tanggal ini sentiasa melahirkan makna, merejam segala curiga dan buruk sangka di samping menghindar keanehan-keanehan dan mengubat kecemasan-kecemasan.

Meski ada yang mungkin tidak dipersetujui seperti aturan, tetaplah mengalir mengikut acuan. Kembalilah mengingat tentang teori lipas dan katak yang dijerang di dalam air panas. Dua binatang yang tak mungkin mudah diterima akal kerana kegelian.

Buktikanlah segalanya agar tidak sia-sia. Sentiasalah berkecukupan dan sederhana. Langit yang tinggi tak mungkin selalunya jauh untuk digapai. Bermulalah walau sedikit.

Hari ini, kau bebas menjadi apa yang kau mahukan.