Curhat 1.


"Le temps detruit tout."


Saya tidak tahu yang mana yang lebih meremukkan; menjadi orang yang tepat di masa yang salah, atau menjadi orang yang salah padahal waktunya sudah tepat. 


Kalau saja dunia ini tidak punya angka, segala tanggal, umur dan waktu juga tak akan terwujudkan. Saya sering dibilang orang-orang bahagia bahawa setiap sesuatu akan selalu datang bila tepat waktunya. Apalagi yang tidak kena dengan masa saya? Jarum jamnyakah? Detik saatnyakah?


Sering juga saya pesan kepada teman-teman saya, berhenti melayani semua rasa sakit yang singgah. Tidak perlu berkawan dengan kepiluan yang cuma lalu sebentar. Jangan sesekali menjemputnya masuk menghuni di ruang hati walau bertalu ia mengetuk.


Selalu saya sebut-sebutkan bahawa semua orang layak untuk bahagia, tapi apa saya masih belum tergolong dalam kelompok semua orang itu? Hati saya selalu mendiamkan semua perasaan. Terlalu cinta juga adakalanya tidak dicintai, terlalu membenci malah kembali lebih dibenci lagi. Entah kenapa semua langkah yang saya ambil semuanya terasa salah.


Mahu bicara soal kebergantungan? Saya sekarang hidupnya sendiri. Saya sudah tidak punya tempat mengadu. (Jangan dibilang soal Tuhan, kerana Dia sebenarnya lebih dari itu.) Beberapa nama dan rupa juga punya hal mereka sendiri. Saya arif bahawa dunia bukan wujud untuk cuma mendengar cerita-cerita saya. Tetapi betapa kejamnya masa, saya sekalipun tidak pernah menjadi dunia sesiapa. Well, mungkin pernah, tetapi mereka tidak pernah menjadikan saya akhiratnya.


Semalam saya sempat berfikir untuk membeli sebentuk cincin. Saya kasihan melihat jari manis saya sendiri. Saya kasihan pada diri saya sendiri. Tapi jauh di sudut hati saya, saya masih percaya bahawa sarungan cincin di jari manis adalah satu tanda yang hanya bisa saya simpankan untuk yang berhak menyarungkannya. Dan ini membalik lagi kepada masa yang tak henti-henti menyiksa saya.


Keperibadian saya bukan seperti Khadijah yang kalau sekali meminang siapapun yang saya suka, akan langsung diterima. Saya perempuan biasa. Tugas saya cuma menunggu. Kalau saya kedepan, katanya tidak boleh, saya perlu dibimbing. Kalau saya menidak, katanya kehidupan ini diciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Habis, saya harus bagaimana? Menyebalkan, ya.


Banyak persoalan yang bermain di kepala saya. Kalau didiarikan, mungkin akan menjadi nota-nota bunuh diri. Kalau saya letakkan di media sosial saya yang lain, saya akan disebut-sebut gila dan meroyan. Apa ini hukuman Saturn Return saya? Kejadian berat apa lagi selain kehilangan kedua orang tua saya? 



Kehilangan diri sendiri?